Beduk Dugderan Ditabuh, Ribuan Warga Semarang Sambut Ramadan

Berita, Budaya311 Dilihat

Semarang //kowarkanews.com  – Ribuan warga memadati halaman Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (16/2/2026), untuk menyaksikan prosesi penabuhan beduk sebagai puncak tradisi Dugderan 2026. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menabuh beduk sebanyak tujuh kali dari mimbar utama, disambut sorak-sorai masyarakat.

Setiap dentuman beduk diiringi suara meriam Kolontoko dan kilatan petasan yang menghiasi langit senja. Warga tampak antusias mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam, sementara suasana semakin meriah menjelang malam.

Penabuhan beduk menjadi penanda dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriyah bagi umat Muslim, sekaligus rangkaian puncak tradisi Dugderan yang telah berlangsung sejak 1881 dan menjadi bagian dari warisan budaya Kota Semarang.

Dalam prosesi tersebut, Sumarno mengenakan busana adat bangsawan Jawa dan berperan sebagai Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawiroprojo. Sebelum menabuh beduk, ia menerima Suhuf Halaqoh dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang memerankan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum. Selanjutnya, Sumarno membacakan Suhuf Halaqoh atau surat keputusan penetapan Ramadan dalam bahasa Jawa di hadapan masyarakat.

Bagi warga, Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus identitas khas Kota Semarang yang terus dijaga lintas generasi.

Safira, warga Barito Semarang, mengaku hampir tidak pernah absen mengikuti Dugderan. Menurutnya, perayaan tersebut selalu menghadirkan suasana meriah, terutama dengan adanya pawai dan pasar malam di kawasan Masjid Agung Kauman.

“Selalu happy kalau ada Dugderan, karena banyak makanan dan suka sama karnavalnya. Dulu juga sering naik wahana di Masjid Agung Kauman,” ujarnya.

Ia berharap tradisi tersebut tetap dilestarikan sebagai warisan budaya bagi generasi mendatang.

Selain menjadi ajang budaya, Dugderan juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Misbahul Munir, pedagang asal Kabupaten Demak, mengaku dagangannya laris selama perayaan berlangsung.

Ia menjual berbagai minuman seperti es cappuccino, cincau, es buah, dan es kampul, serta aneka gorengan seperti sosis, siomay, dan otak-otak.

“Ketika ada event, UMKM juga ikut jalan. Ini sangat membantu kami para penjual makanan dan minuman. Alhamdulillah hari ini lumayan laris,” katanya.

 

Sumarno mengatakan, Dugderan merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang. Ia menegaskan, tradisi tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang perlu terus dilestarikan.

“Dugderan ini menjadi tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan,” ujarnya.

Melalui momentum Dugderan, Sumarno mengajak umat Muslim di Jawa Tengah mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan meningkatkan ketakwaan dan mempererat kebersamaan. Ia juga berharap bulan suci membawa keberkahan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. (Herput)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *