Sukoharjo //kowarkanews.com – Polres Sukoharjo jajaran Polda Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dan investor dari Spanyol melakukan penanaman padi varietas Japonica Tarabas. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan pemerintah di sektor pangan.
Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo menyebut program tersebut merupakan gagasan Kapolda Jawa Tengah Irjen Ribut Hari Wibowo yang diwujudkan lewat kolaborasi antara Polri, Komisi IV DPR RI, pemerintah daerah, serta PT Bio Nusa Lestari.
Menurutnya, Polres Sukoharjo bersama Dinas Pertanian dan Perikanan berupaya menghadirkan varietas beras unggulan untuk membantu mengurangi ketergantungan impor, terutama beras Japonica yang selama ini banyak dipakai restoran Jepang dan Korea.
“Ini adalah langkah strategis untuk mengembangkan varietas beras baru, yaitu beras Japonica. Selama ini beras jenis ini banyak digunakan oleh restoran Jepang dan Korea karena teksturnya lebih pulen dan lengket. Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi impor, maka kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri,” kata Anggaito, Selasa (10/2/2026).
Penanaman dilakukan di lahan persawahan Dukuh Jati, Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo.
Selain menekan impor, ia menilai pengembangan ini akan memberi nilai ekonomi lebih bagi pertanian sekaligus berdampak pada peningkatan devisa.
“Bahan bakunya berasal dari Indonesia, sehingga manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat dan negara,” jelasnya.
Pada tahap awal disiapkan lahan sekitar 16 hektare di Bendosari melalui kerja sama dengan pemerintah desa dan instansi terkait. Tidak menutup kemungkinan area tanam akan diperluas ke wilayah lain.
Di sisi lain, Pelaksana Lapangan Wiku Wicaksa menerangkan bahwa Japonica Tarabas merupakan varietas padi Jepang yang sudah dibudidayakan secara nasional serta memiliki sertifikasi dari Balai Benih Kementerian Pertanian.
“Usia tanamnya sekitar 110 hari setelah tanam, dengan potensi hasil nasional mencapai sekitar 7 ton per hektare. Namun melihat potensi lahan di Desa Mulur, Bendosari, kami optimistis hasilnya bisa lebih tinggi,” kata Wiku.
Ia menuturkan, pasar beras Japonica berbeda dengan beras umum. Selama ini produk yang beredar kebanyakan masih impor dan dijual ulang di supermarket dengan berbagai merek.
“Nantinya hasil panen sudah memiliki pembeli khusus. Kami fokus pada budidaya, sementara pemasaran akan ditangani pihak yang bergerak di bidang tersebut. Ini membuka peluang hadirnya beras Japonica lokal dengan kualitas yang mampu bersaing,” jelasnya.
Untuk urusan benih, Wiku memastikan bibit berasal dari Balai Benih Subang dengan varietas resmi yang sudah memiliki nomor registrasi.
“Sebetulnya ini bukan varietas baru, namun momentumnya sangat tepat karena adanya kebijakan pembatasan impor beras,” kata Wiku.
Sementara itu, wakil investor PT Bio Nusa Lestari, Eduardo Castillo, menyampaikan bahwa Sukoharjo dipilih karena kondisi tanahnya dinilai cocok bagi pengembangan varietas tersebut.
“Kami percaya komunitas di Sukoharjo memiliki kondisi tanah dan lingkungan yang sangat mendukung. Kami membawa standar operasi modern dari luar negeri, namun tetap menggunakan infrastruktur, tanah, kontraktor, serta tenaga kerja lokal,” ujar Eduardo.
Ia menambahkan kebutuhan beras Japonica di Indonesia terus meningkat, terutama untuk restoran dan pasar premium. Produksi dalam negeri diharapkan mampu menggantikan ketergantungan impor.
“Kami telah melakukan riset mulai dari pengecekan tanah, air, hingga pengambilan sampel. Hasilnya sangat cocok. Peran Kapolda juga sangat besar karena memahami struktur tanah dan potensi wilayah, sehingga Sukoharjo dipilih sebagai lokasi percontohan,” tutupnya. (Red)

